deviant art

Deviant Login Shop  Join deviantART for FREE Take the Tour
Found 13 relevant deviations

The Journal Portal

Tune into the voice of the community by checking out deviantART's Journal Portal. Join the conversation by browsing, adding faves, and leaving comments, or submit your own Journal to let your voice be heard.

Submit Journal

Community Mood

  • Love
  • Joy
  • Wow!
  • Affection
  • Adoration
  • Love 22755
  • Joy 18478
  • Wow! 4703
  • Affection 1752
  • Adoration 1069

Polls

What is your preferred drawing software?

Vote! (115,132 votes) 6,682 comments
92,663 Deviants Online
Abdul Djalil Pirous lahir di Meulaboh, Aceh, 11 Maret 1933. Pirous meraih gelar sarjana Seni Rupa ITB tahun 1964, kemudian memperdalam Graphic Design & Printmaking pada Institut Teknologi Rochester tahun 1969. Sepulang dari Amerika, ia mengajar di almamaternya dan membentuk jurusan Desain Grafis. Sejak November 1984, ia diangkat sebagai Dekan FSDR-ITB. Mantan kopral Tentara Pelajar di Meulaboh ( 1948-1950 ) ini sempat bergabung dengan But Muchtar dari Srihadi Sudarsono dalam Sekolah Seni Lukis Modern "Sanggar Seniman". Pelukis produktif ini mampu menyelesaikan 15 sampai 20 lukisan sekaligus, berpindah dari satu kanvas ke kanvas lainnya.

Murid Ries Mulder yang kagum dengan gambar Saseo Ono

Selama belajar di Seni Rupa ITB, tahun 1955, ia dibimbing Ries Mulder mengenal gambar ekspresif ( expressive drawing ), selain melukis dan teori seni. Mulder juga mengajarinya ilmu dasar seni, masalah gambar, nilai2 garis, komposisi, esensi hingga abstraksi, yang nantinya berlabuh pada lukisan2 abstrak. Menggambar adalah bagian dari melihat alam dengan proses yang baru. Pohon cemara yang sama, besoknya bisa dilihat berbeda. Melihat benda yang sama dengan kaca mata yang baru setiap hari, setiap waktu. Kita terus dirangsang untuk sangat peka terhadap fenomena alam, jelas Pirous pada Hery Dim.

Yang kita gambar adalah ekspresi alam. Ketika mengambil ekspresi itu, kita serentak melakukan proses seleksi, mengeliminir yang tidak perlu. Esensinya saja yang tertinggal. Meruntuhkan yang tidak penting untuk mencapai kesederhanaan dan esensi. Hal ini berlaku juga pada kelapa, kentang atau apapun. Orang yang biasa melakukan penyeleksian ini sangat mudah untuk memahami lukisan abstrak.

Pelajaran menggambar nantinya berkembang macam2 ; menggambar perspektif, bentuk, konstruksi, model, dll. Mengambar bentuk adalah suatu proses mencontoh obyek di depan kita setepat-tepatnya secara obyektif. Sebuah proses melihat proporsi dan detail untuk mencapai gambar yang realistik dan naturalistik. Menggambar ekspresif bertolak belakang prinsipnya dengan itu. Sehingga tiap orang bisa menggambar. Menggambar ekspresif bertujuan mencari 'pengertian yang dalam' dengan sudut pandang diri kita sendiri terhadap obyek itu.

Menggambar singa, monyet, makhluk hidup dan benda bergerak menuntut tingkat kecanggihan lebih. Keterpaduan antara kemampuan melihat, menyeleksi dan kecepatan menggunakan tangan. Intinya, menelanjangi obyek dan menemukan esensinya. Gambar orang berdiri, esensinya bentuk tubuh manusia dan tumpuannya. Gambar dipergunakan dengan intensitas2 tertentu. Ia bisa menjadi konsep lukisan, diagram atau catatan. Tapi gambar yang saya ceritakan, selesai sebagai gambar itu sendiri, tambah Pirous.

Gambar sebagai karya utuh, dengan konsep meminimalkan garis, memaksimalkan ekpresi. Menggambar pada masa sekarang, menyesuaikan diri dengan keperluan desain produk, desain interior, menggambar perspektif, hingga konstruksi. Menggambar ekspresif tidak sepopuler dulu. Menggambar ekspresif diperkenalkan oleh pelukis2 Jepang. Diantaranya, Saseo Ono, yang sketsanya menunjukkan ketrampilan menggambar ekspresif yang sangat tinggi. Bagus sekali. Menggambar ekspresif yang dibawa Mulder lebih intelektual dengan analisis2 proses abstraksi.

Ono, pelukis akademik yang brilyan. Di bawah komando tentara Jepang, ia menvisualisasikan kampanye Perang Asia Timur Raya. Ia mempunya kemampuan lain dalam melihat alam ini. Gambar2 Ono menjadi catatan yang bernilai historikal. Ia menggunakan potlot, tinta, konte juga pena. Perkembangan langsung setelah Ono/ jaman Jepang ada di Yogya, diwakili Syahwil, Soenarto Pr. atau Ipe Ma'ruf. Generasi ahli gambar berikutnya adalah T.Sutanto, Priyanto.S, Haryadi Suadi, dst.

Garis, kenyataan si penggambar.

Gambar menjadi bahasa yang ampuh dalam desain, mengkomunikasikan konsep visual. Drawing mirip matematika, yaitu alat atau unsur pengikat. Di sisi lain, gambar bisa menjadi hakekat atau citra seseorang yang fenomenal sifatnya. Gambar sangat esensial dalam hidup kita. Orang yang belum berkembang pikirannya mempergunakan gambar untuk berkomunikasi. Sampai ke tingkatan Picasso, masalah2 politik bisa diceritakan melalui garis. Meski gambar itu intinya tidak lebih dari garis, tapi karakternya tak terbatas. Ada garis yang bernafas, garis gemetar, garis yang nervous, garis yang heroik, garis Rusli, garis Sadali, garis Mochtar Apin, dll. Punya warna pribadi sendiri.

Tato pada tubuh orang Mentawai memperlihatkan ia dari desa mana, petani atau nelayan, sudah menikah atau belum. Gambar/ tato menjadi semacam KTP. Garis bisa dimulai dari pena yang halus, sampai telunjuk yang kita celupkan ke warna. Ada orang yang membuat gambar di atas kertas gambar. Ada juga orang membuat gambar di lapangan terbuka dengan menggunakan traktor, jika kita bicara gambar di luar batas konvensional. Yang jelas, semua gambar dimulai dari garis, dan garis adalah sesuatu yang berada dalam jiwa seseorang, the truth of the drawer.
Usia tua bukan halangan untuk mulai melukis. Dikala yang lain belajar melukis sejak balita, Lili Melati baru memulainya selepas anaknya dewasa dan berkeluarga. Wanita yang hobi masak ini sudah memberi waktu mudanya untuk keberhasilan suami dan anak-anaknya, kini Lili di hari tua leluasa menyalurkan hobinya selama menunggu suami tercinta, Sabana Prawira Widjaya, pulang bekerja. Disela kesibukannya sebagai nenek yang suka membuat makanan favorit untuk 3 anak dan 11 cucunya, serta ketua RT di lingkungan rumahnya. Warga keturunan Tionghoa yang langka, loyal dan berjiwa sosial ; dengan status yang dimilikinya Lili peduli dan mau melakukan pengabdian pada lingkungan. Bagi Lili, menjadi orang2 yang dekat dengan keluarga dan lingkungan adalah pekerjaan yang paling menyenangkan setelah melukis.

Lili ( 63 ) baru menyelesaikan lukisan berjudul "Seruling" yang akan dipamerkannya pada acara "Pameran Peduli untuk Sesama IX" yang digelar Ikatan Wanita Pelukis Indonesia ( IWPI ) Jabar, di Galeri IWPI Jabar, Jl.Teuku Umar no.6, Bandung. Rumah Lili beserta suaminya. Gedung dengan letak strategis yang ditawar orang cukup mahal untuk lahan komersial."Akan tetapi syukur alhamdulillah, berkat kebaikan dan jiwa sosial keluarga bapak Sabana dan ibu Lili, IWPI dapat beraktivitas di sini," ujar ketua IWPI Jabar, Nakis Bandiah Barli ( 68 tahun ).

Chinese painting, Barli dan batik.

Lukisan Lili bernuansa chinese painting yang berkolaborasi dengan berbagai aliran lain. Lebih 19 tahun ( 1990 ), perempuan kelahiran Bandung, 24/11/1947 ini mempelajari Chinese painting pada Madame Chiang Yu Thie dan Teng Mu Yen. Lili belajar dasar2 dan teknik lukisan Cina sebelum mengembangkan ekspresinya sendiri, hingga lahir puluhan karya yang apik, halus dan indah. Dua ratus lebih lukisan Lili bertumpuk di rumah, Galeri IWPI dan Galeri Gracia. " Pokoknya, kalau sudah melukis langsung saja. Tidak bisa ditunda lagi. Teori ataupun ekspresi berjalan bersamaan dalam karya,"ujarnya.

Lili juga sempat belajar pada alm. Barli Sasmitawinata di studio Rangga Gempol, dimana ia mengenal lukisan bermedia kanvas atau kertas. Belakangan, Lili belajar batik pada Prie Ernalia yang akan ia ambil prinsip dasarnya saja yang kemudian akan ia olah dengan ciri khasnya sendiri.

Jika sudah asyik melukis, Lili suka tak kenal waktu. Bila proses kreatif muncul, ia bisa melukis sampai subuh. Tahu2 ia terkaget-kaget melihat hasil lukisannya yang sebagian besar mengandalkan alam bawah sadar. Dalam memilih warna atau mengkomposisikan bentuk, Lili sering terheran kenapa ia memilih warna ini, kenapa ia memberi sentuhan Chinese painting di bagian itu. Mengalir begitu saja. Lili banyak menggunakan media tradisional ; warna dari tepung, bebatuan dan tinta "me".

Lili sudah menggelar puluhan kali pameran bersama, diantaranya ; "Chinese Painting with Madame Chiang Yu Thie" di Hotel Homman ( 1991 ), "Pameran Bersama Kelompok Pecinta Seni Bandung" di CCF Bandung ( 2005 ) dan "Tribut to Barli" di BSB Kota Baru Parahyangan ( 2007 ). Melukis buat saya untuk kepuasan batin. Puas meninggalkan karya untuk anak cucu. Dikenang keluarga dan keturunannya tidak hanya sebagai ibu dan istri, tetapi juga seorang pelukis. Itu sudah cukup, ujarnya bijak.

Namun demikian, meski ia melukis lebih untuk koleksi pribadi, ada saja peminatnya. Seperti lukisan "Cruissant" dibeli Meuthia Hatta, Menteri Pemberdayaan Perempuan, pada "Pameran Peduli Sesama" ( 2008 ). Juga ketika orang datang menghargai dan begitu suka pada lukisannya, Lili akhirnya mau menjualnya. Soal kegiatan melukis ini, Lili yakin segala sesuatu pasti sudah ada waktunya. Bagaimana dengan anda ?
Dewasa ini komputer merajai. Komputer seolah kebutuhan yang sulit dilepaskan dalam keseharian kita, bersaing dengan ponsel/ smart phone/ blackberry. Di milenium kedua ini, sudah jamak anak umur 7 tahun begitu fasih dengan dunia komputer, melebihi orang tuanya. Guru bisa kalah dengan murid jika tidak melek internet, si perpustakaan raksasa, tempat anak didiknya menimba informasi. Orang bisa jadi multi jutawan dengan berjualan lewat situs web atau internet marketing. Termasuk menjual lukisan, melalui promo di Facebook, blog, situs galeri atau search engine.

Tapi jika komputer itu sendiri digunakan sebagai pengganti kuas dan cat minyak ? Menarik ? Itu yang coba dilakukan oleh Djoni Djuhari yang mengekspresikan diri dan imajinasinya melalui rekaman fotografi yang dicetak, dibesarkan dan dipajang. Djoni, seorang pelukis murung yang akrab dengan warna hijau, biru, ungu, hitam dan coklat tua. Alam Bali yang disukainya, terungkap dalam bentuk pura, perahu, wanita. Kehidupan desa di Jawa Barat juga favoritnya. Lukisannya di atas kanvas terkesan misterius, sejuk, sendu dengan bentuk kabur dan lembut. Apa yang terlihat lebih sedikit dari yang tersembunyi.

Djoni selalu haus pengalaman, giat berfotografi dan menekuni grafika di dunia percetakan. Suka bermain dengan bentuk berulang, pola bergerak dan suasana dinamik. Selama 10 tahun, Djoni menstudi penciptaan boneka dari kekayaan khasanah wayang golek Jawa Barat. Ia mendekati dunia animasi dan desain tekstil. Pengajar FSRD-ITB juga sempat memperluas wawasan di Televisi Siaran Terbatas di kampus tsb. Di sana ia ikut membantu program pendidikan komputer khusus seni rupa. Ia juga sempat studi lawatan ke Singapura, Malaysia dan Perancis.

Setelah kenyang dengan segepok pengalaman tsa, pelukis yang peka terhadap unsur2 estetika ( garis, bentuk, warna, irama, komposisi, dll ) ini lalu merintis ungkapan seni yang baru, citra dan kemungkinan baru, yaitu seni rupa komputer/ computer art/ l'art dinateur. Mesin yang mampu menciptakan daya pikat dan keindahan ini, menjanjikan teknik baru, seperti kolase elektronik, dinamika dan transformasi bentuk, interaksi dengan unsur dari bahasa visual ( garis, bayang, warna, tekstur ). Setiap pola yang disimpan, dapat dipanggil kembali dan dikembangkan. Pengulangan pemilihan alternatif bisa dilakukan tak terbatas.

Namun, jika kita bicara tentang karya seni rupa yang dibentuk dari penghayatan manusia melalui pertimbangan estetik yang tinggi, AD.Pirous berpendapat karya computer art hanya menawan di mata, tanpa menghujam ke lubuk rasa. Karya seni menuntut rasa yang lebih dalam. Menyerap diri kita lebih total, diekspresikan secara kuat oleh seniman. Ringkasnya, karya harus menggugah jiwa. Bagi Djoni, yang jelas ia telah menggelar karya dan kemungkinan baru yang bisa diterus digali untuk memperkaya jagad seni rupa kita. Sebuah karya seni memang hanya nikmat bagi mereka yang dapat merasa nikmatnya. Subyektif sekali.
Salim, pelukis yang ulet, tekun dan tangguh. Karyanya dikenal dengan warna2 yang cemerlang, bentuk yang mudah ditebak dan stilasi yang menyenangkan. Surga hijau di belahan tropis. AD.Pirous pernah dibuat terengah oleh ayunan langkah Salim yang panjang dan cepat. Ia bilang pelukis besar Fernand Leger adalah pejalan kaki andal yang bermotto "berjalan kaki selalu sebuah seni yang besar".

Salim mengajak kita untuk tidak tenggelam dalam pengunggulan teknik saja dalam menjelajah seni lukis modern Indonesia, tapi juga sarat oleh kehangatan isi, kehangatan hidup itu sendiri. Salim bermukim di Paris, berkarya di jantung kota kesenian dunia, dan terbiasa dengan ruang luas yang bebas, mencipta dengan nalar terbuka. Pikiran2 itu divisualisasikan Salim dalam karyanya yang dibuat sejak tahun 1957.

Lukisan2 itu masih memancarkan kehangatan, warna dan garis Salim yang puitis. Warna yang redup, mantap dan kecoklatan. Garis lirisnya sangat efektif ketika melukis ruang arsitektur yang vertikal. Lukisan gereja atau mesjid yang dibuatnya terasa damai dan religius. Agak beda dari lukisan2 cemerlang, hangat nan ceria, di pameran Balai Budaya tahun 1957.

Pameran seni rupa retrospektif selalu menarik, meski tak selalu menyajikan gebrakan spektakuler. Ada segi yang membuat kita merenung, menapaki jalan panjang seorang seniman. Salim adalah pelukis senior Indonesia yang kini telah tiada. Karya2nya, menunjukkan kesetiaan dan pengabdian seni yang tak terputus. Pameran karya Salim mencitrakan kesenian yang utuh bagi generasi muda.
Sampai saat ini masyarakat pada umumnya, terutama pelukis Indonesia belum banyak mengenal tokoh pelukis bangsa Jepang, yang pernah hadir antara tahun 1942-1946, bernama Saseo Ono ( 1906-1954 ). AD.Pirous bercerita bahwa, Ono datang ke Indonesia sebagai pelukis yang bergabung dalam tentara Jepang, ketika pendaratan pertama di Banten, Maret 1942.

Ono banyak menggambar di dinding rumah rakyat di Banten yang dilalui tentara Nippon dalam arus serbuan mereka ke Batavia ( Jakarta ). Ia menggambar tema2 propaganda persahabatan antara Nippon dan Indonesia, seperti slogan "Bersatoelah Bangsa Asia" dan "Ajia-no Ajia" ( Asia untuk bangsa Asia ). Ono seorang tentara yang pelukis, dan juga pencatat sejarah visual yang sukar tertandingi. Pada tahun 1944, buku kumpulan sketsanya diterbitkan oleh surat kabar "Djawa Shimbun".

Ketika "Keimin Bunka Shidosho" didirikan di Jakarta pada April 1943, walaupun Ono bukan tokoh pimpinan, tetapi Ono telah memberi warna khusus dalam wujud dan rencana kegiatan organisasi ini. Layaknya pelukis aktif, Ono telah banyak mempengaruhi dan memberi wawasan baru bagi pelukis2 muda Indonesia saat itu. Ono telah memperlihatkan betapa pentingnya peran sketsa dalam proses berkiprahnya seorang pelukis.

Masa sebelumnya pelukis2 cenderung langsung melukis dalam studio, berhadapan langsung dengan kanvas. Kegiatan men-sketsa dianggap bukan kegiatan penting bagi pelukis. Ono telah menggoda kawan2 seniman Indonesia untuk banyak bekerja di luar, alam terbuka, menangkap esensi alam dan obyek secara langsung. Garis2 sketsa Ono yang lincah, jernih dan ekspresif memberi kesegaran baru dalam dunia seni lukis Indonesia di zaman Jepang.

Dorongan ini masih berlanjut dan berkembang dalam pribadi2 pelukis muda Indonesia yang sedang menemukan dirinya di sekitar awal kemerdekaan sampai masa2 berikutnya, 1941-1960. Bukan tidak mungkin seniman muda kita yang masih sangat haus akan ilmu, ketrampilan dan pengenalan teknik melukis serta bimbingan saat itu, tersirap dan terpacu oleh kehadiran pelukis Ono.

Kehangatan sketsa2 Ono sezaman dengan pelukis2 lain di Indonesia seperti : Affandi, Sindudarsono Sudjojono ( 1913-1985 ), Henk Ngantung, Otto Djaya, Dullah, Hendra Gunawan. Pengaruh sketsa Ono dapat kita rasakan berlanjut pada pelukis yang lebih muda seperti : Barli Sasmitawinata, Kusnadi, Basuki Resobowo, Sudarso, Fajar Sidik, Kerton, dan lainnya. Demikianlah, Saseo Ono secara langsung atau tidak langsung telah memberi masukan pengetahuan bagi kita, bahwa melihat alam terbuka dan kehidupan sehari-hari dengan mata segar adalah suatu hal yang penting dalam kegiatan berkesenian.

Selain Keimin Bunka Shidosho ( KBS ), sebagai badan kebudayaan yang aktif bergerak dengan dukungan seniman2 Jepang akademis, ada pula kelompok lain yang berintikan nasionalisme Indonesia yaitu "Poesat Tenaga Rakjat" ( Poetra ). Poetra didirikan oleh Bung Karno-Hatta, Ki Hadjar Dewantoro dan K.H. Mansjur, Maret tahun 1943. Seperti KBS, Poetra juga mengembangkan salah satu kegiatannya di bidang seni dan budaya. Pelukis2 yang tergabung dan memperkuat barisan Poetra di antaranya, Affandi dan Dullah.

Walaupun dalam menjalankan tugas pertahanan negara melalui seni lukis propaganda ini, antara KBS dan Poetra terdapat kecenderungan prinsip yang berlainan, tapi tidaklah tepat untuk memberi nilai satu lebih baik dari yang lainnya. KBS lebih banyak dibimbing oleh tenaga2 seniman Jepang seperti ; Saseo Ono, Yamamoto, Yashioka, di samping seniman2 Indonesia yang dipimpin bergantian oleh S.Sudjojono, R.M. Subanto Surjosubandrio ; sedangkan Poetra hampir seluruhnya didukung oleh seniman Indonesia. Ini bukan berarti Poetra lebih penting peranannya dibanding KBS. Poetra memang lebih patriotic atau nasionalis, tetapi persoalannya harus dilihat dari sudut bahwa badan2 ini merupakan wadah, tempat menggodok seniman2 Indonesia, dari aktivis muda menjadi seniman2 yang matang. Ini dibuktikan dengan peranan mereka pada masa2 perjuangan revolusi kemerdekaan yang segera muncul ( 1945-1950 ).

Sekembalinya ke Jepang pada tahun 1945, Ono masih melanjutkan kehidupannya sebagai pelukis. Dalam karya2nya Ono banyak menceritakan kehidupan malam penari2 di klub hiburan di kotanya, Jepang, seperti yang dilakukan oleh pelukis terkenal Toulouse Lautrec ( 1864-1901 ) di Perancis sebelumnya.

Pelukis Saseo Ono lebih merupakan seorang penggambar yang mempunyai kecakapan luar biasa dalam mencatat segala kejadian dan keadaan di Indonesia dengan pandangan yang tajam, yang kadang2 humanistik. Ono membuat sketsa2 dari pemandangan candi2 di Jawa, pura, pemandian dan gadis2 Bali, wayang golek, karapan sapi Madura, gadis2 Minang, wanita bertelekung sedang sembahyang, dll, di samping sketsa2 yang dibuat ketika pendaratan tentara Jepang di Jawa.

Ono juga sangat banyak mencatat secara visual, hal2 yang menurut sudut pandang dan keingintahuan seorang Jepang pada hal2 unik yang terdapat di sekitar kehidupannya, seperti cara2 orang desa mengangkat gulungan lembar besar bilik bambu, kereta sapi, becak, orang memikul tandan pisang, dan menggendong setumpuk kendi gerabah. Sementara itu, semua adegan2 unik ini semakin langka untuk dapat dilihat sehari-hari saat ini, saat zaman sudah berubah.

Di sinilah koleksi sketsa2 Ono dapat menjadi materi sejarah yang penting. Pelukis lainnya, Yamamoto, dalam salah satu karya lukisannya berjudul "Bikin Perahu" mengungkapkan perasaannya yang mendalam terhadap alam dan kehidupan rakyat di sekitarnya. Lukisannya disusun dengan komposisi yang baik, dengan sentuhan tangan yang lembut. Bandingkan pula dengan lukisan Yashioka yang menggambarkan seorang romusha yang sedang mengangkat sebuah bakul. Kecekatan menangkap dan kesempurnaan perimbangan gerak tubuh yang digambarkan meyakinkan kita kalau seniman2 Jepang ini tergolong pelukis yang baik.

Sangat mungkin, karya2 lukis seniman2 Jepang ini, melalui pameran2, telah pula memberi dorongan dan pengaruh pada seniman2 Indonesia yan sedang berkembang di sekitarnya. Salah satu yang sangat khas terlihat dalam perkembangan masa pendudukan Jepang yang singkat, adalah timbulnya kegemaran bagi pelukis2 untuk melukis di alam terbuka, dan mencatat segala sesuatu secara ekspresif. Di sinilah pengaruh penting seorang Saseo Ono.
Saya tercengang ketika sebuah lukisan sederhana dihargai sampai 400 juta rupiah. Rasanya saya bisa membuatnya lebih complicated dan sophisticated dari itu. Ibu sependapat. Tapi yang sophisticated seperti yang saya maksudkan, pernah saya lihat di sebuah pameran, cuma dibandrol 750 ribu rupiah. Tak lebih. Mengapa bisa demikian ?

Lukisan, pernah saya baca di sebuah majalah, adalah jejak kehidupan si pelukis. Sangat khas, tak bisa diduplikat. Artinya, ketika melihat sebuah karya, tak cuma karya itu thok yang dilihat, kita juga melihat karakter si pelukis, keunikannya, perjuangan dan pandangan hidupnya, habitat tempat tinggalnya, dsb, menjadi sebuah paket komplit. Misalnya, pelukis Joko Pekik, membiarkan ayam2 kesayangannya berkeliaran di halaman rumah. Sebelum memasuki studionya, kita disuguhi musik gamelan dan aneka koleksinya, juga cerita2 dahulu ketika Joko disiksa oleh rezim orde baru. Atmosfer tertentu ia bangun sebelum pengunjung sampai di depan karya lukisnya.

Wah, kalau ingat artikel itu, juga bobot pengalaman hidup dan berkesenian Pak Jeihan ( 71 tahun ), bisa dimengerti kalau lukisan saya belum mencapai ratusan juta ( he3x ). Tapi, saya ingin tahu bagaimana Jeihan bisa menjadi pelukis terkaya di Indonesia. Yuk, kita simak.

Lahir di Ngampel, Boyolali, 26 September 1938. Masa kecil dan remaja didera berbagai kesulitan. Namun, Jeihan tetap mampu mengasah kepiawaiannya dalam melukis, bahkan sampai dipercaya mengajari teman-temannya melukis. Karier seni rupa dirintis dari bawah, dengan pelbagai rintangan. Setelah 7 kali pameran tunggal, baru lukisannya terjual. Sebelumnya, setiap liputan selalu ia jadi sasaran kritik. Mata hitam, ciri khasnya diejek sebagai sebagai sasaran tembak. Tapi, Jeihan tak gentar, ia tetap konsisten dengan prinsip2 temuannya.”Aku tidak takut tantangan ! Aku sengaja mengundang tantangan,” ujarnya.

Nyatanya pilihannya terus tumbuh dan berbuah sekarang. Meski demikian, Jeihan tampil tetap santai bersahaja. Siapapun yang dihadapi, dianggap manusia yang sederajat. Ucapannya spontan, matang, penuh renungan, kaya anekdot dan humor cerdas, juga mengejutkan. Ia tetap gelisah dalam pencariannya dan karenanya bertambah matang. Tidak stagnan. Ucapannya berkelebat seperti kilatan cahaya yang aktif memproduksi makna.

Di ulang tahunnya yang ke-71, 26 September 2009 kemarin, imajinasinya tetap liar. Nalarnya tetap tajam, orisinal, kontroversial, mengacau batas main2 dan serius, menawarkan alternatif untuk keluar dari kemelut peradaban berabad, kata Hikmat Gumelar. Teknik dan kemampuannya tetap berdaya melahirkan karya seni rupa dan sastra. Pelukis terkenal ini juga membidani lahirnya gerakan Puisi mBeling, menulis “Buku” tahun 1973, menerbitkan kumpulan sajak sahabatnya, Sapardi, berjudul “Dukamu Abadi”, “Kolam”, dan mendanai penerbitan ulang “Apa Kabar Hari Ini Den Satro ?”.

Pada tahun 1970-an, rumah Jeihan di Gang Masjid, Cicadas, Bandung, menjadi salah satu pusat kebudayaan Bandung. Rumah itu menyediakan satu kamar, satu mesin tik, minuman, makanan dan keleluasaan untuk berpikir, berdebat dan menulis. Mereka yang kerap berkunjung, adalah Sanento Yuliman, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Dodo Djiwapraja, Ramadhan K.H., Wing Kardjo, W.S.Rendra, Suyatna Anirun, Leon Agusta, dsb. Mereka yang berdebat sengit di rumah Jeihan ini kemudian kita kenal sebagai pesohor dalam jagad kebudayaan kita. Di sana, dalam kondisi ekonomi morat-marit itu, ide2 mengkristal menjadi Puisi mBeling. Studio Jeihan sekarang berada di Jalan Padasuka, Bandung.

Jeihan juga tetap bertanggungjawab sebagai suami dan bapak. Ia banyak membantu para seniman dan kegiatan seni, budaya, pendidikan, sosial dan agama. Jeihan membesar melebihi dirinya, berkembang menjadi lembaga yang turut memacu pertumbuhan masyarakat, budaya dan bangsa kita. Nah, anda tahu sekarang mengapa lukisan Jeihan sangat bernilai.
Amang mengakrabi seni lukis kaligrafi Islam, bersama A.D.Pirous, sebagai seniman, sahabat dan saudara. Amang teman yang tulus, periang yang suka merenung, berceloteh dengan tawa dan ujungnya mengajak kita berpikir. Amang, orang yang gemar bertanya sekaligus berusaha menjawabnya. Sikapnya acuh, spontan dan manusiawi. Amang senang berkomunikasi antara manusia. Ia sering berpesan agar kesukaran hidup digauli dengan bergurau, santai, bahkan tertawa.

15 Januari 2001, Amang berpulang ke dunia birunya. Ia yakin surga berwarna biru atau hijau, seperti sering ia ungkapkan dalam lukisan. Penyair Ghalib berucap,"Semoga kau hidup 1000 tahun, dan setiap tahun punya 50.000 hari. Yang pasti, hidup seni itu panjang dan lama. Walau kehidupan manusia ini sedikit lebih singkat, namun persahabatan itu bagai seni yang terus menerus hidup."
Mantan pengajar Seni Murni FSRD-ITB ini seorang pribadi yang gelisah untuk mencari. Mencari kekuatan baru dalam paduan bentuk dan warna2 kuat. Menciptakan lukisan panorama bermutu tinggi. Seniman kreatif, senirupawan sejati, yang turut andil dalam dunia pendidikan seni rupa modern Indonesia. Menggambar bentuk dan model pada masanya mendapat perhatian khusus. Apin memotivasi dan mengintensifkan pelajaran menghayati proses menggambar model. Konsepnya cenderung ke gambar ekspresif ; mencari titik2 mendasar untuk menemukan ekspresi model. Yang digambar, bukan yang dilihat oleh mata.

Mochtar Apin telah berkarya sejak 1943. Perjalanan seni yang panjang. Ia dikenang sebagai guru yang memancarkan ajaran dan didikan berguna dalam karyanya bagi setiap orang.
Gregorius Sidharta pernah duduk berbincang dengan A.D.Pirous tentang kodrat berkesenian, hajat dan strategi kehidupan melalui seni, sampai media pilihan untuk berungkap seni. Ketika membicarakan alternatif seni rupa Indonesia masa kini, mereka lalu berdialog akrab dengan khasanah seni tradisional yang kaya sesuai getaran masing2. Lalu lahir bentuk ekspresi seni yang kaya unsur tradisi bernafaskan bahasa kini yang modern. Bukan menjiplak, tapi diilhami.

Ketika bicara melambungnya harga lukisan, di mana lukisan hanya laku untuk ditonton, tapi tidak laku untuk dijual, maka lahir gagasan mengembangkan seni grafis melalui cetak saring. Dengan harga terjangkau dan kualitas baik, seniman dapat menjual dan pecinta seni dapat membeli.

Ketika lingkungan hidup ingin diperindah, maka muncul visualisasi baru melalui motif tradisional yang kaya, yang digali dengan nafas kreatif dan pameran modern. Gaya elemen estetik baru ke arah Indonesia.

Ketika apresiasi seni dalam masyarakat tersendat, timbul ide menciptakan karya kriya tangan dalam bentuk benda pakai sehari-hari. Saat masyarakat suka benda tsb, sekaligus mereka akan suka dengan desainnya yang indah. Benda pakai yang nyeni dan indah menjadi kiat memasyarakatkan seni, di samping diskusi dan seminar2.

Sidharta, pribadi yang sangat intens, energik, kreatif, baik sebagai seniman individu maupun anggota kelompok. Seniman handal ini sosok perintis yang membawakan seni dalam kehidupan sehari-hari. Ketangkasan dan energinya terus hidup, matang dan bijaksana. Tak pernah padam.
Umi Dachlan, pelukis wanita yang menarik untuk disimak. Bekerja gigih dan konsisten dalam dunia seni lukis selama lebih 30 tahun. Mulai dari masa remaja kemahasiswaan, menjadi pengajar muda di akademik, semakin intensif memasuki periode pelukis yang matang, menyusul karya masa kininya yang berdialog dengan kehidupan. Kehidupan dan berkesenian, menyatu.

Umi, pribadi yang ceria, mandiri, hangat, walau sering tajam. Berada di lingkungan berkesenian dan seniman berkualitas tinggi, Umi terpacu berkarya di atas rata2. Ditarik ke 2 arah ; antara menemukan diri yang khas atau hanyut ke dalam mahzab lingkungan yang kuat. Karya2 selanjutnya semakin mantap, tenang dan menyatu.

Menurut A.D. Pirous, dalam melukis, Umi cenderung berungkap dengan bahasa visual abstrak – kontemplatif. Ia sangat tekun dan terbawa ke dalam bidang2 warna, bentuk, garis, masuk ke dunia kasat mata yang akrab, penuh renung, khusyu', ceria atau sendu. Memperlihatkan bentuk2 yang menyeret pengalaman lain di bawah permukaannya. Unsur suprising yang menawan. Umi mampu memberikan rasa damai, semangat spiritual bernuansa meditatif, religius dan Islami. Beberapa lukisan Umi diperkaya untaian ayat suci Al-Qur'an.

Perkembangan berikutnya, lukisan Umi menjadi lebih berwarna dalam tema, teknik, estetika maupun ekspresinya. Ia lihai menempatkan tekstur di atas ketrampilan dan garapan teknis semata. Pandai mengolah bentuk kepeng menjadi unsur artistik lukisan bersuasana antikuitas yang marem, tanpa menyeretnya menjadi lukisan bernuansa Bali.

Perjalanan pameran Umi secara pribadi maupun kelompok seniman Bandung, ke luar negeri memperluas visi Umi dalam berkesenian. Ia pernah muncul dengan 5 adegan pertarungan banteng dan matador dengan komposisi beragam. Terlihat pendaman emosi yang terkoyak. Keberangan kian tampak dalam ukuran lukisan yang makin besar. Apa Umi sedang menggambarkan hidupnya, atau masyarakat Indonesia yang dilanda gejolak ?

Pelukis Umi mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk berungkap seni, nyaris sendiri, nyaris tak ada waktu untuk berbalik atau berbelok. Ia adalah berkesenian itu sendiri. Produktif dan kreatif. Pameran tunggalnya ( 19/9/1999 ) menampilkan 35 lukisan yang menyenangkan mata, sekaligus mengharukan hati.