deviant art

Deviant Login Shop  Join deviantART for FREE Take the Tour
Found 13 relevant deviations

The Journal Portal

Tune into the voice of the community by checking out deviantART's Journal Portal. Join the conversation by browsing, adding faves, and leaving comments, or submit your own Journal to let your voice be heard.

Submit Journal

Community Mood

  • Love
  • Joy
  • Wow!
  • Affection
  • Adoration
  • Love 22755
  • Joy 18478
  • Wow! 4703
  • Affection 1752
  • Adoration 1069

Polls

What is your preferred drawing software?

Vote! (66,894 votes) 4,297 comments
54,113 Deviants Online
  • Listening to: The Best of Fourplay
  • Reading: Kerajaan Nusantara
  • Eating: Nasi kuning
  • Drinking: Tea
Banyak yang bilang, menggambar manusia itu paling susah. Hasilnya, pun gampang dikritik. Padahal, kita merasa familiar dengan struktur dan tubuh kita sendiri. Kenapa begitu ya ?
Pernah menggambar pohon ? Kita sering melakukan penyesuaian, dengan menambah ranting yang meliuk untuk mengisi kekosongan ( ketidakseimbangan ). Bagaimana kalau hal sama dilakukan pada gambar orang, di tambah kaki atau siku misalnya ? Tampak aneh bukan ? Gambar di ingatan tak sesederhana gambar di tangan kita. Coba, deh gambar orang yang anda sayangi. Tahu2, relasi antara hidung, mulut dan rahang tampak ganjil. Gambar dalam kepala anda ternyata lautan cuplikan fragmen ingatan yang tak mungkin ditelusuri. Semakin keras anda berkonsentrasi, semakin tak jelas hasilnya.

Pernah menggambar kepala kebesaran ? ( dibandingkan badan ). Wajah kebesaran ? ( untuk kepala ). Hidung kebesaran ?  Dst. Mengira ingat wajah seseorang, menghalangi kita menggambar apa yang sesungguhnya hadir di hadapan kita. Mengambar dari memori membutuhkan skill hebat. Perbedaan halus di antara orang2 dalam kehidupan kita memang sulit diingat. Diperlukan ilmu untuk menyeleksi banjir informasi dalam ingatan kita ( juga yang ada di depan kita ). Apa yang diberitahu mata dan ingatan anda harus disesuaikan kembali. Menggambar itu mudah, tetapi menggambar dengan bagus bisa melelahkan ( sekaligus menggembirakan kalau berhasil ). Terlalu banyak petunjuk akan menyulitkan menggambar model.

Drawing terbaik justru dihasilkan secara tak sengaja. Ketika enjoy, tanpa kuatir perkataan orang tentang mirip tidaknya gambar anda. Drawing sesungguhnya, apa yang anda lihat. Kemiripan akan datang sendiri. Ambil kertas murah sebanyak mungkin untuk latihan. Kertas mahal menghalangi perasaan lepas saat menggambar. Lalu, nikmati proses menggambar dan 'hasil' yang anda menangkan nanti.
  • Listening to: Jazzy Tunes 2
  • Reading: Wikipedia
  • Eating: Tuna salad bread
  • Drinking: Tea
Drawing  atau gambar adalah bahasa universal, sepertihalnya musik. Tahu2 kita sudah goyang mengikuti iramanya. Tak tahu arti liriknya, nggak masalah. Makin asing bahasanya, makin seru goyangnya. Gambar ( juga foto ) dinilai kritikus dari apa yang sesungguhnya dirasakan seniman saat proses kreatif terjadi. Apa yang dipikirkan. Apa yang dilalui. Bagaimana rasa loe ?

Awal ikut kursus sanggar Barli dulu, saya diajari meniru botol, kendi, gerabah yang disusun di meja. Berbulan-bulan saya dan peserta kursus lainnya melakukan ini sampai suntuk ( sebelum masuk, saya sudah juara 1 menggambar di sekolah. Tapi, ternyata di kursus harus mulai lagi dari nol ). Mengambar dasar. Dengan pensil di depan muka sebagai pengukur komposisi, sampai mata terlatih melihat komposisi benda ( tanpa pensil lagi ). Ketrampilan dasar seniman dan desainer ya itu, menggambar. Yang punya dasar menggambar bagus, melukisnya pun bagus.

Sejak fotografi muncul, kegiatan menggambar ( mengabadikan orang, peristiwa ) berkurang perannya. Emosi dan good mood  kurang diperlukan. Toh, sudah ada kamera. Keajaiban drawing pada kesederhanaannya. Cukup ada permukaan dan alat untuk menandai. Dari sini, kemudian bisa digayakan secara efesien dan cepat, melalui proses kreatif berikutnya. Umumnya, orang menduga dibutuhkan bakat alami untuk bisa melakukan, sehingga takut memulai. Padahal, siapa saja bisa menggambar kalau mau.
Saya tercengang ketika sebuah lukisan sederhana dihargai sampai 400 juta rupiah. Rasanya saya bisa membuatnya lebih complicated dan sophisticated dari itu. Ibu sependapat. Tapi yang sophisticated seperti yang saya maksudkan, pernah saya lihat di sebuah pameran, cuma dibandrol 750 ribu rupiah. Tak lebih. Mengapa bisa demikian ?

Lukisan, pernah saya baca di sebuah majalah, adalah jejak kehidupan si pelukis. Sangat khas, tak bisa diduplikat. Artinya, ketika melihat sebuah karya, tak cuma karya itu thok yang dilihat, kita juga melihat karakter si pelukis, keunikannya, perjuangan dan pandangan hidupnya, habitat tempat tinggalnya, dsb, menjadi sebuah paket komplit. Misalnya, pelukis Joko Pekik, membiarkan ayam2 kesayangannya berkeliaran di halaman rumah. Sebelum memasuki studionya, kita disuguhi musik gamelan dan aneka koleksinya, juga cerita2 dahulu ketika Joko disiksa oleh rezim orde baru. Atmosfer tertentu ia bangun sebelum pengunjung sampai di depan karya lukisnya.

Wah, kalau ingat artikel itu, juga bobot pengalaman hidup dan berkesenian Pak Jeihan ( 71 tahun ), bisa dimengerti kalau lukisan saya belum mencapai ratusan juta ( he3x ). Tapi, saya ingin tahu bagaimana Jeihan bisa menjadi pelukis terkaya di Indonesia. Yuk, kita simak.

Lahir di Ngampel, Boyolali, 26 September 1938. Masa kecil dan remaja didera berbagai kesulitan. Namun, Jeihan tetap mampu mengasah kepiawaiannya dalam melukis, bahkan sampai dipercaya mengajari teman-temannya melukis. Karier seni rupa dirintis dari bawah, dengan pelbagai rintangan. Setelah 7 kali pameran tunggal, baru lukisannya terjual. Sebelumnya, setiap liputan selalu ia jadi sasaran kritik. Mata hitam, ciri khasnya diejek sebagai sebagai sasaran tembak. Tapi, Jeihan tak gentar, ia tetap konsisten dengan prinsip2 temuannya.”Aku tidak takut tantangan ! Aku sengaja mengundang tantangan,” ujarnya.

Nyatanya pilihannya terus tumbuh dan berbuah sekarang. Meski demikian, Jeihan tampil tetap santai bersahaja. Siapapun yang dihadapi, dianggap manusia yang sederajat. Ucapannya spontan, matang, penuh renungan, kaya anekdot dan humor cerdas, juga mengejutkan. Ia tetap gelisah dalam pencariannya dan karenanya bertambah matang. Tidak stagnan. Ucapannya berkelebat seperti kilatan cahaya yang aktif memproduksi makna.

Di ulang tahunnya yang ke-71, 26 September 2009 kemarin, imajinasinya tetap liar. Nalarnya tetap tajam, orisinal, kontroversial, mengacau batas main2 dan serius, menawarkan alternatif untuk keluar dari kemelut peradaban berabad, kata Hikmat Gumelar. Teknik dan kemampuannya tetap berdaya melahirkan karya seni rupa dan sastra. Pelukis terkenal ini juga membidani lahirnya gerakan Puisi mBeling, menulis “Buku” tahun 1973, menerbitkan kumpulan sajak sahabatnya, Sapardi, berjudul “Dukamu Abadi”, “Kolam”, dan mendanai penerbitan ulang “Apa Kabar Hari Ini Den Satro ?”.

Pada tahun 1970-an, rumah Jeihan di Gang Masjid, Cicadas, Bandung, menjadi salah satu pusat kebudayaan Bandung. Rumah itu menyediakan satu kamar, satu mesin tik, minuman, makanan dan keleluasaan untuk berpikir, berdebat dan menulis. Mereka yang kerap berkunjung, adalah Sanento Yuliman, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., Dodo Djiwapraja, Ramadhan K.H., Wing Kardjo, W.S.Rendra, Suyatna Anirun, Leon Agusta, dsb. Mereka yang berdebat sengit di rumah Jeihan ini kemudian kita kenal sebagai pesohor dalam jagad kebudayaan kita. Di sana, dalam kondisi ekonomi morat-marit itu, ide2 mengkristal menjadi Puisi mBeling. Studio Jeihan sekarang berada di Jalan Padasuka, Bandung.

Jeihan juga tetap bertanggungjawab sebagai suami dan bapak. Ia banyak membantu para seniman dan kegiatan seni, budaya, pendidikan, sosial dan agama. Jeihan membesar melebihi dirinya, berkembang menjadi lembaga yang turut memacu pertumbuhan masyarakat, budaya dan bangsa kita. Nah, anda tahu sekarang mengapa lukisan Jeihan sangat bernilai.
Barli Sasmitawinata dilahirkan sebagai pelukis yang menyandang karakter jamannya sekaligus berperan besar sebagai guru generasi pelukis muda. Pelukis 3 jaman ini mengisi hidupnya yang penuh vitalitas dengan berkesenian. Sejak muda, ia haus akan ilmu dan bercita-cita sebagai pelukis. Pameran pertama kali tahun 1936 di Pekan Raya, Surabaya. Pernah belajar pada pelukis Belanda, Jos Pluimentz dan pelukis Italia, Luigi Nobili. Ia aktif berkarya semasa puncak revolusi fisik yang sarat tema perjuangan. Setelah menjadi seniman, Barli mendapat kesempatan belajar ke luar negeri ( tahun 1950 ). Paris dan Amsterdam menjadi bekal akademis Barli.

Sekembalinya ke tanah air tahun 1957, Barli mengajar di Jurusan Seni Rupa ITB yang waktu itu masih bagian dari Fakultas Teknik UI, Jakarta, yang berkedudukan di Bandung. Barli mengajar mata kuliah " Menggambar Model/ Bentuk." Menggambar baginya bermakna latihan ketrampilan tinggi dalam memindahkan bentuk alam yang dilihat kepada bentuk yang digambarkan dengan menanamkan penghayatan lebih dalam tentang proses mengekspresikan diri. Pengertian yang dalam sekali. Pengertian sederhana yang benar dalam belajar seni rupa.

Barli membina pendidikan seni rupa "Rangga Gempol" untuk semua lapisan masyarakat dan semua kelompok umur. Saya sempat belajar darinya selama setahun pada tahun 1989. Sejatinya, kegiatan ini dimulai sejak tahun 1958 dan sepeninggalnya, dilanjutkan putra sulungnya, Agung, di Kota Baru Parahyangan. Banyak seniman yang menonjol dari Bandung, hasil asuhannya. Kebahagiaan terbesar dalam hidupnya adalah melihat anak didik tumbuh dan mengepakkan sayap sesuai impian.

Wajah2 lukisannya memantulkan pengalaman luas, kearifan, keselarasan isi dan kepiawaian teknik. Barangkali ini yang ingin diwariskan seorang seniman, guru, bapak, manusia bertakwa ini pada kita semua. Selamat jalan, pak Barli.
Amang mengakrabi seni lukis kaligrafi Islam, bersama A.D.Pirous, sebagai seniman, sahabat dan saudara. Amang teman yang tulus, periang yang suka merenung, berceloteh dengan tawa dan ujungnya mengajak kita berpikir. Amang, orang yang gemar bertanya sekaligus berusaha menjawabnya. Sikapnya acuh, spontan dan manusiawi. Amang senang berkomunikasi antara manusia. Ia sering berpesan agar kesukaran hidup digauli dengan bergurau, santai, bahkan tertawa.

15 Januari 2001, Amang berpulang ke dunia birunya. Ia yakin surga berwarna biru atau hijau, seperti sering ia ungkapkan dalam lukisan. Penyair Ghalib berucap,"Semoga kau hidup 1000 tahun, dan setiap tahun punya 50.000 hari. Yang pasti, hidup seni itu panjang dan lama. Walau kehidupan manusia ini sedikit lebih singkat, namun persahabatan itu bagai seni yang terus menerus hidup."
Abdul Djalil Pirous lahir di Meulaboh, Aceh, 11 Maret 1933. Pirous meraih gelar sarjana Seni Rupa ITB tahun 1964, kemudian memperdalam Graphic Design & Printmaking pada Institut Teknologi Rochester tahun 1969. Sepulang dari Amerika, ia mengajar di almamaternya dan membentuk jurusan Desain Grafis. Sejak November 1984, ia diangkat sebagai Dekan FSDR-ITB. Mantan kopral Tentara Pelajar di Meulaboh ( 1948-1950 ) ini sempat bergabung dengan But Muchtar dari Srihadi Sudarsono dalam Sekolah Seni Lukis Modern "Sanggar Seniman". Pelukis produktif ini mampu menyelesaikan 15 sampai 20 lukisan sekaligus, berpindah dari satu kanvas ke kanvas lainnya.

Murid Ries Mulder yang kagum dengan gambar Saseo Ono

Selama belajar di Seni Rupa ITB, tahun 1955, ia dibimbing Ries Mulder mengenal gambar ekspresif ( expressive drawing ), selain melukis dan teori seni. Mulder juga mengajarinya ilmu dasar seni, masalah gambar, nilai2 garis, komposisi, esensi hingga abstraksi, yang nantinya berlabuh pada lukisan2 abstrak. Menggambar adalah bagian dari melihat alam dengan proses yang baru. Pohon cemara yang sama, besoknya bisa dilihat berbeda. Melihat benda yang sama dengan kaca mata yang baru setiap hari, setiap waktu. Kita terus dirangsang untuk sangat peka terhadap fenomena alam, jelas Pirous pada Hery Dim.

Yang kita gambar adalah ekspresi alam. Ketika mengambil ekspresi itu, kita serentak melakukan proses seleksi, mengeliminir yang tidak perlu. Esensinya saja yang tertinggal. Meruntuhkan yang tidak penting untuk mencapai kesederhanaan dan esensi. Hal ini berlaku juga pada kelapa, kentang atau apapun. Orang yang biasa melakukan penyeleksian ini sangat mudah untuk memahami lukisan abstrak.

Pelajaran menggambar nantinya berkembang macam2 ; menggambar perspektif, bentuk, konstruksi, model, dll. Mengambar bentuk adalah suatu proses mencontoh obyek di depan kita setepat-tepatnya secara obyektif. Sebuah proses melihat proporsi dan detail untuk mencapai gambar yang realistik dan naturalistik. Menggambar ekspresif bertolak belakang prinsipnya dengan itu. Sehingga tiap orang bisa menggambar. Menggambar ekspresif bertujuan mencari 'pengertian yang dalam' dengan sudut pandang diri kita sendiri terhadap obyek itu.

Menggambar singa, monyet, makhluk hidup dan benda bergerak menuntut tingkat kecanggihan lebih. Keterpaduan antara kemampuan melihat, menyeleksi dan kecepatan menggunakan tangan. Intinya, menelanjangi obyek dan menemukan esensinya. Gambar orang berdiri, esensinya bentuk tubuh manusia dan tumpuannya. Gambar dipergunakan dengan intensitas2 tertentu. Ia bisa menjadi konsep lukisan, diagram atau catatan. Tapi gambar yang saya ceritakan, selesai sebagai gambar itu sendiri, tambah Pirous.

Gambar sebagai karya utuh, dengan konsep meminimalkan garis, memaksimalkan ekpresi. Menggambar pada masa sekarang, menyesuaikan diri dengan keperluan desain produk, desain interior, menggambar perspektif, hingga konstruksi. Menggambar ekspresif tidak sepopuler dulu. Menggambar ekspresif diperkenalkan oleh pelukis2 Jepang. Diantaranya, Saseo Ono, yang sketsanya menunjukkan ketrampilan menggambar ekspresif yang sangat tinggi. Bagus sekali. Menggambar ekspresif yang dibawa Mulder lebih intelektual dengan analisis2 proses abstraksi.

Ono, pelukis akademik yang brilyan. Di bawah komando tentara Jepang, ia menvisualisasikan kampanye Perang Asia Timur Raya. Ia mempunya kemampuan lain dalam melihat alam ini. Gambar2 Ono menjadi catatan yang bernilai historikal. Ia menggunakan potlot, tinta, konte juga pena. Perkembangan langsung setelah Ono/ jaman Jepang ada di Yogya, diwakili Syahwil, Soenarto Pr. atau Ipe Ma'ruf. Generasi ahli gambar berikutnya adalah T.Sutanto, Priyanto.S, Haryadi Suadi, dst.

Garis, kenyataan si penggambar.

Gambar menjadi bahasa yang ampuh dalam desain, mengkomunikasikan konsep visual. Drawing mirip matematika, yaitu alat atau unsur pengikat. Di sisi lain, gambar bisa menjadi hakekat atau citra seseorang yang fenomenal sifatnya. Gambar sangat esensial dalam hidup kita. Orang yang belum berkembang pikirannya mempergunakan gambar untuk berkomunikasi. Sampai ke tingkatan Picasso, masalah2 politik bisa diceritakan melalui garis. Meski gambar itu intinya tidak lebih dari garis, tapi karakternya tak terbatas. Ada garis yang bernafas, garis gemetar, garis yang nervous, garis yang heroik, garis Rusli, garis Sadali, garis Mochtar Apin, dll. Punya warna pribadi sendiri.

Tato pada tubuh orang Mentawai memperlihatkan ia dari desa mana, petani atau nelayan, sudah menikah atau belum. Gambar/ tato menjadi semacam KTP. Garis bisa dimulai dari pena yang halus, sampai telunjuk yang kita celupkan ke warna. Ada orang yang membuat gambar di atas kertas gambar. Ada juga orang membuat gambar di lapangan terbuka dengan menggunakan traktor, jika kita bicara gambar di luar batas konvensional. Yang jelas, semua gambar dimulai dari garis, dan garis adalah sesuatu yang berada dalam jiwa seseorang, the truth of the drawer.
Usia tua bukan halangan untuk mulai melukis. Dikala yang lain belajar melukis sejak balita, Lili Melati baru memulainya selepas anaknya dewasa dan berkeluarga. Wanita yang hobi masak ini sudah memberi waktu mudanya untuk keberhasilan suami dan anak-anaknya, kini Lili di hari tua leluasa menyalurkan hobinya selama menunggu suami tercinta, Sabana Prawira Widjaya, pulang bekerja. Disela kesibukannya sebagai nenek yang suka membuat makanan favorit untuk 3 anak dan 11 cucunya, serta ketua RT di lingkungan rumahnya. Warga keturunan Tionghoa yang langka, loyal dan berjiwa sosial ; dengan status yang dimilikinya Lili peduli dan mau melakukan pengabdian pada lingkungan. Bagi Lili, menjadi orang2 yang dekat dengan keluarga dan lingkungan adalah pekerjaan yang paling menyenangkan setelah melukis.

Lili ( 63 ) baru menyelesaikan lukisan berjudul "Seruling" yang akan dipamerkannya pada acara "Pameran Peduli untuk Sesama IX" yang digelar Ikatan Wanita Pelukis Indonesia ( IWPI ) Jabar, di Galeri IWPI Jabar, Jl.Teuku Umar no.6, Bandung. Rumah Lili beserta suaminya. Gedung dengan letak strategis yang ditawar orang cukup mahal untuk lahan komersial."Akan tetapi syukur alhamdulillah, berkat kebaikan dan jiwa sosial keluarga bapak Sabana dan ibu Lili, IWPI dapat beraktivitas di sini," ujar ketua IWPI Jabar, Nakis Bandiah Barli ( 68 tahun ).

Chinese painting, Barli dan batik.

Lukisan Lili bernuansa chinese painting yang berkolaborasi dengan berbagai aliran lain. Lebih 19 tahun ( 1990 ), perempuan kelahiran Bandung, 24/11/1947 ini mempelajari Chinese painting pada Madame Chiang Yu Thie dan Teng Mu Yen. Lili belajar dasar2 dan teknik lukisan Cina sebelum mengembangkan ekspresinya sendiri, hingga lahir puluhan karya yang apik, halus dan indah. Dua ratus lebih lukisan Lili bertumpuk di rumah, Galeri IWPI dan Galeri Gracia. " Pokoknya, kalau sudah melukis langsung saja. Tidak bisa ditunda lagi. Teori ataupun ekspresi berjalan bersamaan dalam karya,"ujarnya.

Lili juga sempat belajar pada alm. Barli Sasmitawinata di studio Rangga Gempol, dimana ia mengenal lukisan bermedia kanvas atau kertas. Belakangan, Lili belajar batik pada Prie Ernalia yang akan ia ambil prinsip dasarnya saja yang kemudian akan ia olah dengan ciri khasnya sendiri.

Jika sudah asyik melukis, Lili suka tak kenal waktu. Bila proses kreatif muncul, ia bisa melukis sampai subuh. Tahu2 ia terkaget-kaget melihat hasil lukisannya yang sebagian besar mengandalkan alam bawah sadar. Dalam memilih warna atau mengkomposisikan bentuk, Lili sering terheran kenapa ia memilih warna ini, kenapa ia memberi sentuhan Chinese painting di bagian itu. Mengalir begitu saja. Lili banyak menggunakan media tradisional ; warna dari tepung, bebatuan dan tinta "me".

Lili sudah menggelar puluhan kali pameran bersama, diantaranya ; "Chinese Painting with Madame Chiang Yu Thie" di Hotel Homman ( 1991 ), "Pameran Bersama Kelompok Pecinta Seni Bandung" di CCF Bandung ( 2005 ) dan "Tribut to Barli" di BSB Kota Baru Parahyangan ( 2007 ). Melukis buat saya untuk kepuasan batin. Puas meninggalkan karya untuk anak cucu. Dikenang keluarga dan keturunannya tidak hanya sebagai ibu dan istri, tetapi juga seorang pelukis. Itu sudah cukup, ujarnya bijak.

Namun demikian, meski ia melukis lebih untuk koleksi pribadi, ada saja peminatnya. Seperti lukisan "Cruissant" dibeli Meuthia Hatta, Menteri Pemberdayaan Perempuan, pada "Pameran Peduli Sesama" ( 2008 ). Juga ketika orang datang menghargai dan begitu suka pada lukisannya, Lili akhirnya mau menjualnya. Soal kegiatan melukis ini, Lili yakin segala sesuatu pasti sudah ada waktunya. Bagaimana dengan anda ?
Dewasa ini komputer merajai. Komputer seolah kebutuhan yang sulit dilepaskan dalam keseharian kita, bersaing dengan ponsel/ smart phone/ blackberry. Di milenium kedua ini, sudah jamak anak umur 7 tahun begitu fasih dengan dunia komputer, melebihi orang tuanya. Guru bisa kalah dengan murid jika tidak melek internet, si perpustakaan raksasa, tempat anak didiknya menimba informasi. Orang bisa jadi multi jutawan dengan berjualan lewat situs web atau internet marketing. Termasuk menjual lukisan, melalui promo di Facebook, blog, situs galeri atau search engine.

Tapi jika komputer itu sendiri digunakan sebagai pengganti kuas dan cat minyak ? Menarik ? Itu yang coba dilakukan oleh Djoni Djuhari yang mengekspresikan diri dan imajinasinya melalui rekaman fotografi yang dicetak, dibesarkan dan dipajang. Djoni, seorang pelukis murung yang akrab dengan warna hijau, biru, ungu, hitam dan coklat tua. Alam Bali yang disukainya, terungkap dalam bentuk pura, perahu, wanita. Kehidupan desa di Jawa Barat juga favoritnya. Lukisannya di atas kanvas terkesan misterius, sejuk, sendu dengan bentuk kabur dan lembut. Apa yang terlihat lebih sedikit dari yang tersembunyi.

Djoni selalu haus pengalaman, giat berfotografi dan menekuni grafika di dunia percetakan. Suka bermain dengan bentuk berulang, pola bergerak dan suasana dinamik. Selama 10 tahun, Djoni menstudi penciptaan boneka dari kekayaan khasanah wayang golek Jawa Barat. Ia mendekati dunia animasi dan desain tekstil. Pengajar FSRD-ITB juga sempat memperluas wawasan di Televisi Siaran Terbatas di kampus tsb. Di sana ia ikut membantu program pendidikan komputer khusus seni rupa. Ia juga sempat studi lawatan ke Singapura, Malaysia dan Perancis.

Setelah kenyang dengan segepok pengalaman tsa, pelukis yang peka terhadap unsur2 estetika ( garis, bentuk, warna, irama, komposisi, dll ) ini lalu merintis ungkapan seni yang baru, citra dan kemungkinan baru, yaitu seni rupa komputer/ computer art/ l'art dinateur. Mesin yang mampu menciptakan daya pikat dan keindahan ini, menjanjikan teknik baru, seperti kolase elektronik, dinamika dan transformasi bentuk, interaksi dengan unsur dari bahasa visual ( garis, bayang, warna, tekstur ). Setiap pola yang disimpan, dapat dipanggil kembali dan dikembangkan. Pengulangan pemilihan alternatif bisa dilakukan tak terbatas.

Namun, jika kita bicara tentang karya seni rupa yang dibentuk dari penghayatan manusia melalui pertimbangan estetik yang tinggi, AD.Pirous berpendapat karya computer art hanya menawan di mata, tanpa menghujam ke lubuk rasa. Karya seni menuntut rasa yang lebih dalam. Menyerap diri kita lebih total, diekspresikan secara kuat oleh seniman. Ringkasnya, karya harus menggugah jiwa. Bagi Djoni, yang jelas ia telah menggelar karya dan kemungkinan baru yang bisa diterus digali untuk memperkaya jagad seni rupa kita. Sebuah karya seni memang hanya nikmat bagi mereka yang dapat merasa nikmatnya. Subyektif sekali.
Mantan pengajar Seni Murni FSRD-ITB ini seorang pribadi yang gelisah untuk mencari. Mencari kekuatan baru dalam paduan bentuk dan warna2 kuat. Menciptakan lukisan panorama bermutu tinggi. Seniman kreatif, senirupawan sejati, yang turut andil dalam dunia pendidikan seni rupa modern Indonesia. Menggambar bentuk dan model pada masanya mendapat perhatian khusus. Apin memotivasi dan mengintensifkan pelajaran menghayati proses menggambar model. Konsepnya cenderung ke gambar ekspresif ; mencari titik2 mendasar untuk menemukan ekspresi model. Yang digambar, bukan yang dilihat oleh mata.

Mochtar Apin telah berkarya sejak 1943. Perjalanan seni yang panjang. Ia dikenang sebagai guru yang memancarkan ajaran dan didikan berguna dalam karyanya bagi setiap orang.
Salim, pelukis yang ulet, tekun dan tangguh. Karyanya dikenal dengan warna2 yang cemerlang, bentuk yang mudah ditebak dan stilasi yang menyenangkan. Surga hijau di belahan tropis. AD.Pirous pernah dibuat terengah oleh ayunan langkah Salim yang panjang dan cepat. Ia bilang pelukis besar Fernand Leger adalah pejalan kaki andal yang bermotto "berjalan kaki selalu sebuah seni yang besar".

Salim mengajak kita untuk tidak tenggelam dalam pengunggulan teknik saja dalam menjelajah seni lukis modern Indonesia, tapi juga sarat oleh kehangatan isi, kehangatan hidup itu sendiri. Salim bermukim di Paris, berkarya di jantung kota kesenian dunia, dan terbiasa dengan ruang luas yang bebas, mencipta dengan nalar terbuka. Pikiran2 itu divisualisasikan Salim dalam karyanya yang dibuat sejak tahun 1957.

Lukisan2 itu masih memancarkan kehangatan, warna dan garis Salim yang puitis. Warna yang redup, mantap dan kecoklatan. Garis lirisnya sangat efektif ketika melukis ruang arsitektur yang vertikal. Lukisan gereja atau mesjid yang dibuatnya terasa damai dan religius. Agak beda dari lukisan2 cemerlang, hangat nan ceria, di pameran Balai Budaya tahun 1957.

Pameran seni rupa retrospektif selalu menarik, meski tak selalu menyajikan gebrakan spektakuler. Ada segi yang membuat kita merenung, menapaki jalan panjang seorang seniman. Salim adalah pelukis senior Indonesia yang kini telah tiada. Karya2nya, menunjukkan kesetiaan dan pengabdian seni yang tak terputus. Pameran karya Salim mencitrakan kesenian yang utuh bagi generasi muda.